Judul: "Gizi Seimbang untuk Penderita Gastro Esofageal Reflux Disease (GERD) pada saat Puasa"
Narasumber:
- dr. Kaka Renaldi, SpPD-KGEH
- dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi,Sp.GK
Moderator:
- dr. Endriana Lubis MKK,Sp.Ok
Peserta:
Kegiatan Kelas Edukasi ini diikuti oleh 154 orang termasuk didalamnya pegawai Kementerian Kesehatan, para tenaga Kesehatan dan masyarakat umum.
Gambaran Umum:
Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) yaitu suatu proses terstandar sebagai suatu metode pemecahan masalah yang sistematis dalam menangani problem gizi sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi. Terstandar yang dimaksud adalah memberikan asuhan gizi dengan proses terstandar yang menggunakan struktur dan kerangka kerja yang konsisten sehingga setiap pasien yang mempunyai masalah gizi mendapat asuhan gizi melalui proses 4 (empat) langkah yaitu pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, dan monitoring & evaluasi gizi. Ke tiga langkah dari PAGT, yaitu pengkajian gizi, intervensi gizi dan monitoring & evaluasi gizi sudah dikenal oleh dietisien, namun langkah ke dua, diagnosis gizi masih belum didefinisikan dengan baik.
Diagnosis gizi merupakan rantai yang hilang dalam proses asuhan gizi yang telah dilakukan sebelumnya. Diagnosis gizi ini merupakan jembatan antara pengkajian gizi dan intervensi gizi. Diagnosis gizi ditegakkan melalui data-data yang dikumpulkan dalam pengkajian gizi, dirangkai, dianalisa dan disimpulkan masalahnya, kegiatan ini ibarat merangkai “puzzle” dimana akhirnya didapatkan suatu gambar yang jelas. Bila masalah diketahui, diketahui pula gejala, tanda dan penyebabnya maka intervensi yang dilakukan akan lebih terfokus dan terukur.
Walaupun proses asuhan gizi ini terstandar, namun asuhan gizi tetap diberikan secara individual karena pada pasien dengan diagnosa medis yang sama belum tentu mempunyai risiko atau masalah gizi yang sama. Misalnya pada satu ruangan terdapat 3 pasien dengan diagnosa medis demam berdarah, namun risiko gangguan gizi pada pasien tersebut bisa berbeda beda misalnya pasien pertama mengalami gangguan makan melalui oral, pasien kedua mengalami gangguan absorpsi zat gizi tertentu, pasien ketiga mengalami masalah asupan kurang karena tidak mau makan makanan rumah sakit. Dengan kondisi tersebut ketiga pasien memerlukan terapi gizi yang berbeda, dan harus dilakukan modifikasi diet standar sesuai kebutuhan masing-masing pasien.
Asuhan gizi yang berkualitas berarti melakukannya dengan benar, pada waktu yang tepat, menggunakan cara yang benar bagi individu yang tepat untuk mencapai hasil sebaik mungkin. Asuhan gizi yang diberikan pada pasien dalam bentuk rancangan diet, edukasi dan konseling yang tepat sesuai dengan masalah dan kebutuhan gizi klien dan terdokumentasi merupakan bentuk pelayanan yang berkualitas dari asuhan gizi. Kualitas diukur dengan tingkat keberhasilan atau hasil akhir intervensi dan kepatuhan melaksanakan proses asuhan yang berlaku. Dengan demikian hasil asuhan gizi dapat diprediksi dan tidak bias bila dietisien menggunakan proses asuhan gizi yang terstandar.
Gangguan atau penyakit pada saluran cerna bagian atas dapat berupa Gastroesophageal Reflux (GERD), disfagia, indigesti/dispepsia, nausea/mual dan muntah, gastritis dan ulkus peptikum. Masalah gizi pada pasien dengan gangguan atau penyakit tersebut sering menyebabkan asupan makan yang tidak adekuat dan dapat mempengaruhi status gizi pasiennya. Asesmen gizi pada pasien penyakit ini membutuhkan informasi tentang makanan yang menyebabkan rasa tidak nyaman setelah dikonsumsi kebiasaan makan dan pola makan, serta data antropometrinya. Beberapa diagnosa gizi yang umum pada pasien penyakit ini meliputi asupan oral inadekuat, gangguan fungsi gastrointestinal, kesulitan mengunyah/menelan, dan kurang pengetahuan terkait gizi dan makanan. Intervensi gizi meliputi pembatasan makanan tertentu yang memperparah gejala dan mengurangi beban kerja saluran cerna, serta modifikasi gaya hidup. Monitoring dan evaluasi gizi yang perlu dilakukan adalah mengenai toleransi pasien terhadap pembatasan makanan dan status gizinya.
